Rabu, Agustus 24, 2011

YOU’RE MY ANSWER


July 2009
Namaku Chia, aku menjalani hidup keseharianku dengan biasa saja. Ibuku dengan keadaan patah tulang di lengan kanannya yang tidak kunjung pulih, ayahku yang memang sudah tiada sejak aku dilahirkan ke dunia ini. Sungguh berat rasanya kalau aku pikir-pikir ulang, bagaimana bisa Ibuku mengurus dan terus merawatku hingga dewasa dengan kedua tangannya saja sementara aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah. Ingin sekali aku memanggil “Ayah” pada lelaki yang memang bersedia menjadi pendamping Ibuku, tapi Ibuku lebih memilih sendiri mengurusku hingga besar nanti. Dan aku takkan mengecewakan Ibuku, Ibuku adalah sosok Ibu sekaligus Ayah dalam hidupku. Aku akan tetap menjalani hidup seperti biasanya…berdua dengan Ibuku.

                Tepat saat aku naik kelas menginjak kelas 11, sore itu ketika pulang sekolah aku merasakan seperti ada orang asing di sekitar jalan komplek tepatnya 4 rumah dari rumahku. Aku melihatnya sungguh-sungguh karena barang kali aku salah orang, siapa tahu dia memang tetanggaku dan aku hanya kurang jelas melihatnya dari kejauhan. Semakin dekat dan dia pun melihatku. Sesosok lelaki tinggi dengan kulit sawo matang dan memakai baju putih ‘polo’ serta celana pendek. Wajahnya tidak terlalu jelas aku lihat, yang pasti aku tertawa kecil dalam hati saat ia menyebrang ke rumah tetangga depan dengan gerakan yang lama, sesekali ia melihatku dan aku tetap menatapnya dengan tatapan ‘galak’.
“Siapa sih nih cowok ngeliatnya nggak biasa gitu??! Biasa aja dong!!!! Kayak nggak pernah lihat cewek..” ucapku dalam hati.
Ketika aku masuk rumah, kulihat Ibuku sedang menyapu rumah.
“Mah, kenal cowok yang ditengah jalan itu nggak? Yang rumahnya ditengah gang kita? Siapa sih nyebelin ngeliatnya….serem!!” ucapku sambil sedikit-sedikit menunjuk lelaki itu.
“Mana Mamah tau…… mungkin anaknya, atau siapanya hmmmm…”.
Aku yakin bahwa Ibuku tak mau tahu pasti dan Ia benar-benar menghiraukan pertanyaanku.
Yasudahlah, lagi pula mau dia tetangga baru, siapapun aku tak peduli. Aku nggak dirugikan dia, dan dia juga nggak dirugikan olehku.
Malam harinya aku melewati tengah gang dan memang tengah gang itu adalah pertigaan, jadi anak-anak cowok suka ngumpul disitu.
“Ah sial!!! Kenapa gue ketemu cowok ini lagi, gue harus pelototin dia supaya dia nggak ngeliatin gue..”
Dan saat aku melewatinya, bukan seperti cowok lain yang suka siul atau bahkan mengejekku. Ia malah diam dan menundukkan kepalanya sambil duduk diam di bangku depan rumah tetangga. Aku merasakan sesuatu yang salah telah terjadi padaku, entah saat itu aku merasakan jantungku berdegup cukup cepat dan kencang. Aku pun tidak sanggup untuk menoleh melihatnya lagi. Seketika aku kembali ke rumah, sekitar 5 lelaki berada dipertigaan itu. Memang disitu terdapat tempat duduk yang panjang, aku hanya diam dan menundukkan kepala karena aku tergolong wanita yang sulit untuk berjalan disekitar lelaki. Aneh, tapi ya begitulah aku. Seorang lelaki dengan badannya yang kurus menyapaku
“Chiaa……………..!!!”.
“Loh kok tau nama gue? Dari mana yaaa. Wah parah nih!” ujarku dalam hati dan tetap tidak menoleh sedikitpun untuk melihat siapa yang teriak-teriak memanggil namaku. Aku tidak peduli..
“Chia, nih ada yang mau kenalan sama lo! Hehe”
Wah aku kenal sekali dengan suara itu, dia adik teman SMP ku. Hasan namanya, ia menghampiriku dan meminta nomor handphoneku. Aku sudah tidak peduli dan langsung saja aku beri nomorku.

Pukul 23:00
Ya sekitar jam 11 malam, semua rasa bingung, penasaran nggak karuan, dan rasa ingin tahu aku besar sekali sampai baru kali itu aku memimpikan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Menurutku, ini malam paling aneh karena terus-terusan memimpi-mimpikannya.

Esok harinya
Aku mendapat sms dari lelaki berbadan kurus itu..
“Hi Chia, Gue Damar. Cowok yang manggil lo itu.. Ntar malem ada acara nggak? Gue mau ajak lo jalan-jalan aja sekalian mau kenal lo lebih deket hehehe :-p. Itupun kalo lo mau. Reply asap”
“Oh..iya masih inget. Uhm…gimana ya? Emang kenapa ya?”
“Gue harusnya sih male mini ngajak pacar jalan, dan sayangnya nggak punya pacar hehe. Lo sendiri gimana? Oh iya jangan lupa pikirin tawaran jalan gue ;-)”
“Oh yaya haha, oke habis isya kerumahku yaa…”
“Oke sip. Yes :-D”

Pukul 19:30
Aku dijemput Damar, dan kami jalan berdua naik motor hehe. Hasan membonceng lelaki misterius itu. Sampai saat itu dia tetap diam dan tidak bicara, sungguh aku merasakan hal yang berbeda saat kita saling berpandangan. Aku menatap matanya dan tiba-tiba saja yakin kalau dia lelaki yang baik-baik.
Hingga akhirnya jam menandakan pukul 21:00, saat itu Damar sedang berbincang dengan teman-temannya. Kini tinggal aku dengan lelaki itu yang duduk di bangku panjang ditempat seperti biasa.
“He..” entah apa maksudku, entah mengapa aku bisa bodoh begitu mengucapkan kata ‘HE’ saja. Sangat memalukan tindakanku barusan.
“Mmmm…” ya Tuhan, apa aku ditakdirkan untuk bicara dengan makhluk ‘ssssttt’ malam ini???
“Woy kalian kenalan dong, masih kaku aja? Kenalan sana!” ucap Hasan.
“Hi, aku Chia”.
“Hee iya salam kenal ya” sambil menjabat tanganku yang sudah dingin dari tadi karena udara malam.
“Lho kok nggak sebut namanya? Kamu siapa??”.
“Oh iya, hehe. Udah ah nanti kamu juga tau sendiri dari teman-teman saat manggil aku”.
Ya Tuhan, apa yang aku rasakan saat ini? Sejak awal aku menatap matanya, berjabat tangan, hingga berbincang dengannya.. Aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda saat berkenalan dengannya, sangat dan sangat berbeda dari lelaki lain yang pernah berkenalan denganku pula.

                Sejak saat itu aku sering jalan bersama Yoga, Hasan, Si Lelaki, dan 2 temannya lagi. Aku sering tersenyum dan tertawa bersama, terkadang Damar marah karena seperti tidak dianggap. Aku berusaha untuk tetap adil dimana aku bisa berbincang dengan keduanya, dan saat itu pula Damar mengungkapkan perasaan sayangnya padaku dan Ia tentu saja memintaku untuk menjadi kekasihnya.
“Chia..lo mau nggak jadi pacar gue?? Dari awal liat lo gue udah suka sama lo, dan beberapa waktu ini selama pdkt gue makin yakin kalo gue sayang sama lo. Chia………......mau ng…nggak?”.
“Hehe masih ganyangka, tapi….yaudah jalanin aja”.
“Gimana? Gue nggak ngerti, jalanin sebagai apa?”.
“Yaudah seperti yang lo mau hehe”.
Saat malam itulah aku menjadi kekasihnya, menjalani kehidupan normal seperti biasanya. Aku bilang kepada Ibuku
“Mah, menurut Mamah si Damar itu yang sering jalan sama aku bagaimana Mah orangnya?”.
“Yah baik kok, Mamah juga kenal kan sama orang tuanya. Mereka keluarga yang baik-baik. Kenapa kamu tanya seperti itu?”.
“Nggg….. Gapapa kok! Aku suka aja jalan sama dia, ya kalo Mamah gasuka yaa aku gabakal jalan lagi sama dia :-D”.
“Ada-ada aja sih kamu, yaudah gapapa kok kalo kamu berteman baik sama dia..”.

Agustus 2009
Semua kurasakan seperti ada yang hilang ketika aku berjalan-jalan dengan Damar. Ya, aku tahu jawabannya. Lelaki itu tidak lagi ada dihadapanku, disampingku. Kami hanya jalan berdua, dan selalu begitu setiap minggunya. Semakin lama aku merasakan rasa “kangen” yang cukup dalam hingga aku rela untuk melingak-linguk keluar rumah untuk memastikan ada atau tidak si Lelaki itu. Sampai saat ini aku belum mengetahui namanya, dan teman-temannya pun tidak mau memberitahuku. Damar sms kepadaku bahwa Ia sedang pergi bersama keluarganya. Aku tahu ini merupakan hal mustahil dan paling nekat yang aku alami, rumah Damar dan si Lelaki itu bersebelahan dan aku menghampiri rumah si Lelaki itu. Aku pura-pura pergi ke warung padahal memerhatikan rumahnya dan tanpa kusadari aku menabraknya. Ternyata dia pulang dari warung juga, dan menyapaku
“Kamu…? Kenapa ngeliatin rumah aku? Atau aku yang kepedean hehe” ucapnya sambil garuk kepala.
“A-aa-aakuuuu….mm….mau ke warung kok! Hehe”.
“Oh. Ya”
Aku menundukkan kepala seakan-akan aku telah kehilangan semangat dengan balasan kata-katanya yang singkat itu. Ia pun pergi begitu saja tanpa meninggalkan basa-basi lagi. Aku semakin dibuat kacau olehnya, mungkin aku suka padanya???
Sehabis aku pulang dari warung, aku melihatnya sedang duduk di bangku panjang itu. Aku mendekatinya dan duduk di bangku itu pula.
“Hi, kenapa kamu sering duduk disini? Semakin malam kan semakin sepi..”
“Gapapa Chia, aku suka disini. Aku ngerasa lega gatau kenapa, tenang aja, apalagi saat aku sambil liat langitnya yang kadang tidak ada bintangnya sama sekali. Emang sih disini banyak nyamuk dan motor lewat hehe tapi aku tetap nggak ngalihin pandangan aku ke langit. Eh liat tuh bintang yang itu tuh!!!!!” ucapnya sambil menunjuk ke arah langit.
“Ih iya aku liat, terang banget yaaa??? Aku yakin kalo bintang itu nggak bakal ketutup awan dalam waktu lama. Iya nggak sih? Hehe aku sok tau.”.
“Aku gatau……..yang jelas aku akan kasih nama bintang itu…Chia” ujarnya sambil mendengak melihat bintang itu.
“Hah? Kok?”
J” dia hanya tersenyum sambil menatapku.
Cobaan apalagi yang aku terima ya Tuhan, aku merasakan yang sangat tidak bisa aku ungkapkan. Perasaan itu semakin dalam, mataku semakin sayu menatapnya dan pikiranku tetap focus tentangnya, jantungku berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Perasaan apa ini Tuhan? Cinta? Tidak, aku mungkin hanya merasakan yang namanya cinta monyet. Aku segera berdiri dan mengucapkan salam berpisah.
“Ok deh, aku balik dulu. Mamah udah nunggu. Bye”.

                Apa yang aku alami selama beberapa hari ini membuatku berpikir keras. Ketika aku bersamanya, aku merasa seperti ada orang yang penting bagiku yang sedang menemaniku. Dan ketika Ia perg, aku merasa sangat kehilangan. Rindu kali ini sangat menyakitkan, kadang aku pikir buat apa aku memikirkan orang yang sampai saat ini belum aku ketahui namanya?????????????? Aku percaya bahwa suatu saat aku tdak akan mengetahui namanya saja, tetapi juga isi hatinya. Aku percaya Tuhan….

Keesokkan minggunya
Aku jalan bersama Damar dan akupun memaksa untuk mengetahui nama si Lelaki itu. Dia hanya menjawab “Eja” atau “Reja”. Aku lihat raut mukanya yang emosi saat dia menyebut nama si Lelaki itu.
“Kenapa Tanya dia dia dia dia diaaaaaa terus sih?! Lo suka sama dia ya? Hah?”.
“Engga lah. Lagian kalo udah tau namanya ya yaudah, cuma mau tau!”.
Sejak itu aku sering salah panggil ketika aku sedang berjalan bersama Damar, aku sering memanggilnya “Zha! Eh Damar.”. Akupun jarang bahkan sering menolak ajakan jalan dari Damar karena aku tidak mau kejadian itu terulang lagi.
Suatu malam, aku bertemu dengan Rezha. Aku harus mengagetkan dia dengan memanggil namanya.
“REEZHHHHAAA!!!!!”
“……” dia hanya menoleh dan diam, sungguh aku takut kalau dia ternyata bukan bernama Rheza.
“Kok diem? Nama kamu Rezha kan? :-D”
“Mmmm…….bukan”
“Terus siapa? Ah tau deh bodo amat!! Aku males sama kamu, nggak asik gamau ngasih tau namanya. Kamu curang tau namaku. Dadah” aku beranjak pergi.
“Eh eh jangan gitu dong, kayak bocah hihi. Aku…..mm….. Tian. Ya! Tian :-D”
“Bohong, masa Tian. Septian? :-/”
“Nah iya itu betul kamu. SEPTIAN”
“Nama lengkapnya apa?”
“Kenapa? Kamu duluan”
“Aku (ya kalian tahu) kamu?”
“Nama yang bagus. Aku…. Septian hehe”
“Ok deh dadah”
“Iya iya, aku anak kedua. Kedua itu apa?”
“DWI”
“Iya betul”
“Septian Dwi?”
“Ya…..begitulah!”
“Oke Tian. Kenapa kamu disini? Kamu asal dari mana?”
“Aku dari Surabaya, orang tuaku disana semua. Aku disini tinggal bersama Om aku dan anak-anaknya yang masih kecil itu..”
“Kenapa bisa?”
“Aku anak yang bandel, disekolah pun begitu. Orang tuaku kesel karena aku nggak berubah-ubah, akhirnya orang tuaku menitipkan aku ke Om aku sampai lulus sekolah. Aku disini belajar bagaimana caranya mencuci mobil, menyiram bunga, menyapu halaman, dan lain-lain. Aku suka kok. Disini juga aku sering akrab dengan orang-orang pengajian di mushola depan komplek. Aku sering ngaji disana, ya aku berharap saat aku kembali ke Surabaya aku sudah berubah lebih baik.”
“Amin. Aku seneng bisa kenal kamu Tian..”
“Ya, sama Chia cubill hoho”
“Apa cubil???????????”
“Cari tau sendiri dulu ya seperti biasa ekeekekekee”
TIN-TIN-TIN. Perbincangan kita terhenti ketika motor menyinari kita dan membunyikan klaksonnya. Saat aku emosi dan mau memarahinya ternyata…….. Dia Damar.
“Oh asik ya lagi berduaan. Cie! Lanjutin deh, kok saling diem lagi?”
“Aku balik. Dadah semua” aku malu, bingung, dan membisu. Aku pun sms Damar bahwa aku tunggu dia di dekat pertigaan dan kami pun bertemu. Dia hanya diam sesekali mengejekku dengan Tian. Aku hanya ingin ucapkan putus. Aku rasa selama ini aku bukan menyayanginya karena yang aku pikirkan hanya Tian bukan dia. Dia hanya bilang
“Oh putus karena jadian sama Eja eja itu? Selamat deh”
Dia pergi meninggalkanku begitu saja dan bergetar lah handphoneku karena Damar berjalan pergi sambil sms ku yang berisi
“Gue sakit hati banget sama lo. Gue kecewa.. Thanks”
Sungguh berat rasanya aku membaca sms yang singkat tapi sangat menyakitkan. Aku adalah orang yang jahat yang telah mengecewakan orang yang sayang sama aku. Aku tidak punya pilihan Tuhan, karena bagaimana bisa aku menyayangi Tian sedangkan aku masih menjadi kekasih Damar. Aku telah memilih Tian, aku tidak pernah tahu isi hati Tian apakah sama denganku. Yang aku tahu da adalah sosok lelaki yang baik dan harus mendapatkan kekasih yang baik pula. Mungkin di satu posisi aku adalah orang jahat, tetapi aku hanya mencoba belajar memilih….

26 Agustus 2009
Hari dimana kita semakin dekat dan tiba saatnya. “Chia, kenapa kamu putus sama Damar? Dia curhat sama aku, katanya dia sakit hati banget.”

“Oh aku lagi suka sama orang lain makanya aku nggak mau kecewain dia, lebih baik dia tau dari awal..aku udah minta maaf ke dia, terserah dia mau maafin atau enggak”
“Kalo boleh tau suka sama siapa? Teman sekelasmu ya Cubil?”
“Bukan, dia……………………………dia di de-pan-ku”
“Yang kamu maksud?... Aku?” ya Tuhan aku semakin berkeringat ketika dia menatapku lebih tajam bahkan Ia mendekatiku.
“Iya. Udah dulu yaa aku mau kerumah temen”
“Tuhkan kamu gitu.. Jujur ya aku suka sama kamu dari awal kita saling memandang. Awalnya aku mengira kamu bakal jadi tetangga terjutek di komplek ini dan nyatanya enggak. Aku seneng bisa kenal kamu Chia, kamu orang pertama yang buat aku nyaman tinggal disini. Hehe nggak gombal lho :-p. aku turut seneng kalo kamu seneng sama yang lain, eh kamunya malah putus. Aku suka sama kamu, dan mulai sayang sama kamu. Kamu….. kamu mau jadi pacar aku? Maaf ya terlalu cepat padahal baru sebulan kenal.”
“Hhhhhhhhhhhhhhhhhhhh….” Hanya napas yang tidak beraturan yang aku ucapkan.
“Kamu manis, aku suka. Kamu perempuan baik-baik menurut aku. Kamu……CUBIL hehe”

“Aku juga sayang sama kamu. Tian”
Sesaat kemudian…
“Mas Rezha, nanti sore temenin aku muter-muter ya Mas”
Anak dari Om Tian berkata.
“Lho kamu dipanggilnya Rezha?”
“Iya, eh nanti taraweh bareng aku yuk, trs bukber bareng keluarga aku dan keluarga kamu. Hehe mau nggak?”
“Mm.. OK!”

YES! “Rezha Dwi Setian” bukan Septian.

            Hari demi dengannya, begitupun bulan demi bulan. Aku merasakan kecocokkan yang tidak biasa. Setiap hari Rezha membangunkanku sahur, mengajakku shalat subuh berjama’ah di mushola, belajar bersama, dan berbuka puasa bersama. Tetangga-tetangga pun sering mengira aku teman lama yang baru bertemu lagi, karena kita begitu akrab. Sampai akhirnya tiba pada suatu perpisahan yang mungkin tidak pernah terbayang sebelumnya.
“Aku pas lulus SMA udah nggak disini lagi, tapi kayaknya dipercepat deh jadi July depan aku udah pergi..” dia selalu berkata demikian setiap kita bertemu.
Rasa kehilanganku tentu semakin mendalam, dan tibalah harinya…………………………………….
Saat itu aku lebih jarang dirumah dan aku pun tak pernah melihatnya lagi didepan rumah ataupun ditempat biasa kita mengobrol.
“Rezha kemana, akhir-akhir ini nggak liat dia melulu?” tanyaku pada temannya.
“Lah masa pacarnya nggak tau? Ohiya lagi musuhan yaaa? Dia udah pergi tapi sih baru kemaren-kemaren terus dia juga ngasih simcard nya ke gue nggak tau kenapa. Terus dia cuma nitip ini buat lo (box berbentuk love).”  Memang sih kemaren-kemaren sempat diem-dieman karena hal sepele.


26-08-2009
Terima kasih untuk setahun lebih ini udah nemenin aku yaa Chia.
Aku nggak bermaksud untuk pergi tanpa izin tapi aku takut untuk ngomong langsung sama kamu, maafin aku yaa kemaren-kemaren udah bikin kamu kesel. Aku nggak mau kamu berat hati untuk terima aku pergi..
Kalo aku ada waktu pasti aku main kesana lagi, mengulang saat kita puasa bareng, shalat bareng, belajar bareng, sampe-sampe liat matahari terbit bareng. Kamu inget nggak sama si monyet yang selalu tunjuk-tunjuk terus goyang-goyang waktu liat mataharinya?? Lucu yaaaa, senyumnya kayak kamu hehe becanda.
Aku sayang sama kamu,tapi aku sadar aku enggak lama disini. Aku nggak mau kehilangan kamu, tapi menurut aku kamu nggak kemana-mana kok. Tetep ada dihati aku, dan jangan lupain aku ya!
Salam kangen UNLIMITED buat kamu Cubil!!!
THIEREZHA
(tau kan artinya)

AKU YAKIN SUATU SAAT KITA BERTEMU LAGI MESKIPUN HARUS DIWAKTU YANG SALAH.
Ada sedikit perubahan nama peran-peran dari nama panggilan mungkin disini memakai nama depan.
YANG MERASA CAPEK BACANYA, YA NGGAK USAH DIBACA 
LOVE XX,
CYNTHIA

My Pray

Ya Tuhan apalagi yang engkau rencanakan
Rasa apa yang aku alami????
Kehilangan…. Ya aku dapat menamai itu
Semua memori tentang kenangan kita, hal yang sering kita lalui nggak bisa semudah itu di lupakan
Ya Tuhan, aku ingin dia kembali..
Aku ingin dia ada disampingku meski hanya sejenak
Aku tak sanggup kalau mengingat bayangannya dipikiranku
Aku….aku….aku merasa kehilangan
Kehilangan apa yang telah menjadi bagian dari senyumanku
Senyuman yang tulus dan semua itu kini hilang begitu saja

Tuhan… kalau ini yang terbaik
Aku akan jalani semua kenyataan ini
Sampaikan salamku padanya ya Tuhan?
Aku sayang padanya :’)


SINCERELLY,
THIEREZHA

Penaku Tentangmu



Penaku tentangmu
Kenangan dengan lo nggak akan terlupakan
Lo merupakan malaikat terakhir gue
Lo mengisi semua hari-hari gue dengan senyuman
Gue selalu berharap lo yang terbaik buat gue

Gue sayang sama lo…
Entah rasa apa lagi yang gue alami sekarang
Gue hanya ingin lo bahagia disana
Jangan pernah sedih lagi ya?
Lo harus janji
Gue disini baik-baik aja dan semua harus berjalan seperti biasa

Hanya elo kekasih terbaik gue
Mungkin takdir Tuhan mengatakan lain
Kita telah berpisah…
Hanya berpisah dunia
Raga dan cinta lo akan selalu terkenang di jjiwa gue
Gue nggak akan lupa sampe kapanpun

Cuma lo lo dan lo
Nggak ada yang lain lagi…
Meskipun ada, posisi lo nggak akan tergantikan
Gue
Sayang
Lo
Selamanya…

-special for my stupid love R-
LOVE xx,
Cynthia